Rabu, 16 November 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. latar Belakang
Penentuan teknik analisis yang akan digunakan dalam suatu analisis - biasanya dibahas dalam metodologi penelitian sangat tergantung dari kerangka konseptual yang menjadi dasar analisis dan tujuan dari pelaksanaan analisis. Agar hasil analisis dapat ditafsirkan secara tepat, maka harus dihindari penggunaan teknik analisis yang tidak sesuai dengan skala pengukuran dari variabel yang digunakan dalam analisis. Dalam mengkaji hubungan antara dua variabel atau lebih, penting dipahami skala pengukuran dari setiap variabel tersebut, sehingga teknik analisis yang akan digunakan untuk menjelaskan hubungan atau kaitan antara variabel tersebut dapat dipilih yang paling sesuai. Apabila hal ini diabaikan, maka dapat menghasilkan interpretasi hasil yang kurang tepat (misleading).
Sebagai contoh, analisis regresi mensyaratkan bahwa variabel yang digunakan paling tidak diukur secara interval, sehingga kalau ada salah satu variabel yang diukur secara nominal atau ordinal maka hasil yang diperoleh tidak dapat ditafsirkan secara tepat, oleh karena asumsi dalam penggunaan teknik ini yang tidak dapat dilanggar adalah bahwa variabel yang digunakan mengikuti distribusi normal.
Pada pertemuan yang lalu kita telah membahas mengenai korelasi dan regresi linier sederhana. Makalah   ini  akan  membahas mengenai regresi ganda yang akan dipaparkan pada pembahasan Bab II, semoga makalah ini dapat memberikan pemahaman yang lebih lanjut bagi kita tentang teknik analisis menggunakan regresi ganda.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Regresi Ganda
Analisis Regresi adalah analisis yang mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengukuran pengaruh ini melibatkan satu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), yang dinamakan analisis regresi linier sederhana dengan rumus Y= a+bX. Nilai “a” adalah konstanta dan nilai “b” adalah koefisien regresi untuk variabel X.
Harga ‘a’ dapat dicari dengan rumus :

Harga ‘b’ dapat dicari dengan rumus :

Koefisien regresi ‘b’ adalah kontribusi besarnya perubahan nilai variabel bebas, semakin besar nilai koefisien regresi maka kontribusi perubahan semakin besar, demikian pula sebaliknya akan semakin lecil. Kontribusi perubahan variabel bebas (X) juga ditentukan oleh koefisien regresi positif atau negatif.

2. Pengukuran Analisis Regresi
Pengukuran pengaruh variabel yang melibatkan lebih dari satu variabel bebas (X1,X2,X3,…,Xn), digunakan analisis regresi linier berganda, disebut linier karena setiap estimasi atas nilai diharapkan memgalami peningkatan atau penurunan mengikuti garis lurus. Berikut ini estimasi regresi linier berganda :
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+…+bnXn
Keterangan :
Y                : variabel terikat (dependent)
X (1,2,3,…) : variabel bebas (independent)
a                 : nilai konstanta
b (1,2,3,…) : nilai koefisien regresi
Penggunaan nilai konstanta secara statistik dilakukan jika satuan-satuan variabel X(independent) dan variabel Y (dependent) tidak sama. Sedangkan, bila variabel X(independent) dan variabel Y (dependent), baik linier sederhana maupun berganda, memiliki satuan yang sama maka nilai konstanta diabaikan dengan asumsi perubahan variabel Y (dependent) akan proposional dengan nilai perubahan variabel X (independent).
Dalam menentukan nilai ‘a’ dan ‘b1′,’b2′,’b3’,.., digunakan persamaan regresi linier berganda:
1. SY = an+b1SX1++b2SX2+b3SX3+…
2. SX1Y = aSX1+b1SX1²+b2SX1X2+…
3. SX2Y = aSX2+b2SX1X2+b2SX21²+… dan seterusnya.
Untuk menghitung nilai ‘a’,’b1′,’b2′,’b3′,… pada persamaan regresi linier berganda dapat dirumuskan =nx-1 di mana nx = banyaknya variabel bebas (X).

B. PERAMALAN(FORECASTING)
Untuk membuat peramalan pada persamaan EQ1, maka pada equation box klikmenu: Forecast atau klik Procs
 Forecast. Sehingga muncul kotak dialog Forecast.Untuk peramalan variabel log(deposito) atau ldeposito, maka ada beberapa hal yang perlu diisikan, yaitu:
Forecast nameIsikan pada kolom ini nama variabel yang akan digunakan sebagai nilai peramalan variabel dependen. Jika akan dilakukan peramalan unti variabelldeposito. Eviews secara otomatis akan mengisikan variabel peramalandengan nama ldeposito. Jika akan digunakan nama lain, isikan pada kolomini.
S.E.(optional)Pada kolom ini akan ditampilkan nilai standard error dari peramalan. Jika pada kolom ini tidak diisikan suatu nama, maka nilai standard error dari peramalan tidak akan disimpan.
Forecasting methodMetode yang akan digunakan adalah Static, yaitu metode denganmenghitung peramalan pada nilai actual.
OutputDigunakan untuk menampilkan output dalam bentuk grafik, nilai peramalan,atau keduanya

C. Residual
Residual adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data sampel.
Error adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan yang sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data populasi.
Persamaan keduanya : merupakan selisih antara nilai duga (predicted value) dengan pengamatan sebenarnya.
Perbedaan keduanya: residual dari data sampel, error dari data populasi.
*Predicted value adalah nilai duga yang dihasilkan dari model regresi yang diperoleh. Misal model regresi yang diperoleh: y = 2+3x. Apabila kita memasukkan nilai x = 1, maka predicted value dalam kasus ini  adalah y = 2+3*1 = 5.









D. KESALAHAN BAKU ESTIMASI
Setelah kita menentukan bentuk garis regresi maka tindakan selanjulnva adalah menentukan ketepatan garis regresi tersebut.
Dengan diagram pencar dapat diketahui secara kasar ketepatan garis regresi dengan memperhatikan luas penyimpangan terhadap garis regresi yang berupa titik-titik koordinat. Bila penyebaran titik-titik koordinat tidak luas berarti semakin tepat garis regresi yang kita buat dan sebaliknya.
Perhitungan estimasi kesalahan baku dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus berikut :
Rumus :  Se =      atau      Se =
Y = nilai variabel dependen
 X = nilai variabel independen
b = koefisien regresi
Y = nilai estimasi terhadap setiap nilai Y
a = Y- intercept
n = jumlah pasangan pengamatan

sebagai penyebut digunakan n -2 karena di sini kita kehilangan 2 derajat kebebasan, yaitu a dan b yang digunakan untuk menaksir A dan B populasi,
contoh   tentang   hubungan   antara  pengunjung   Puskesmas  dengan jumlah tctrasiklin dapat dihitung estimasi kesalahan baku seperti berikut.
X
Y
Y-Y*
(Y - Y )2
Y2
60
150
-21,1
445,21
22500
50
140
-4,5
20,25
19600
70
205
73,0
53,29
42025
40
130
12,1
146,41
16900
60
165
6,1
37,21
27225
70
210
12,3
151,29
44100



853,66
172350

Se = 853,66/4 = 14,6

E. koefisien determinasi
1.    Koefisien Determinasi
Dari koefisien korelasi Pearson (r) dapat dihitung lebih lanjut kuadrat r, disebut koefisien determinasi. Koefisien r kuadrat ( r2) dapat diartikan sebagai besar nya proporsi variasi Y yang dapat dijelaskan oleh variabel X. Hal ini didasarkan pemahaman bahwa variasi Y atau perubahan dari nilai Y, seyogyanya dijelaskan oleh variabel X yang kita duga sebagai faktor prediktor. Apabila variasi Y dapat dijelaskan 100% oleh variabel X, berarti X memang memegang peran dalam perubahan nilai Y. Atau dapat dikatakan penentu nilai Y. Dapat diperhatikan bahwa bila besar r= 1, maka r2 = 100%. Ini berarti bila terjadi perubahan nilai X, maka nilai Y pasti akan berubah.
Pada data Hb ibu dengan BBL diatas , maka nilai koefisien korelasi nya adalah 0,567
( 56,7%)  ,hal ini berarti variabel BBL dapat dijelaskan oleh variabel Hb ibu sebesar 56,7%.
D. Uji Hipotesis Koefisien Korelasi
Pengujian signifikansi koefisien korelasi selain dapat menggunakan tabel r juga dapat dihitung dengan uji t. Rumus uji t resebut :
t = r

tabel . Koefisien Korelasi pada Derajat Kemaknaan 5% dan 1%

dk
5%
1 %
dk .
5%
1%
1
0,887
1,000
24
0,388
0,496
2
0,950
0,999
25
0,381
0,487
3
0,878
0,959
26
0,374
0,478
4
0,811
0,917
27
0,367
0,470
5
0,754
0,874
28
0,361
0,463
6
0,707
0,834
29
0,355
0,456
7
0,666
0,798
30
0,349
0,449
8
0,632
0,765
35
0,325
0,418
9
0,602
0,735
40
0,304
0,393
10
0,576
0./08
45
0,288
0,372
11
0,553
0,684
50
0,273
0,354
12
0,532
0,661
60
0,250
0,325
13
0,514
0,641
70
0,323
0,302
14
0,497
0,623
80
0,217
0,283
15
0,482
0,606
90
0,205
0,267
16
0,468
0,590
100
0,195
0,254
17
0,456
0.575
125
0,174
0,228
18
0,444
0,561
150
0,159
0,208
19
0.433
0,549
200
0,138
0,148
20
0,423
0,537
300
0,113
0,148
21
0,413
0,526
400
0,098
0,128
22
0,404
0,515
500
0,088
0,115
23
0,396
0,505
1000
0,062
0,081


F. Koefisien Korelasi
Sering kali kita ingin mengetahui bagaimanakah hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Apakah variabel X mempunyai hubungan dengan variabel Y ? Apakah nilai Matematika siswa mempunyai hubungan dengan tingkat kecerdasannya (IQ) ? Apakah terdapat kesepakatan antara para juri dalam menilai para pesertanya dimana dalam penilaianya skor tertinggi adalah 10 dan terendah adalah 1 ?
Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r yang mendekati -1 atau +1 menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel tersebut dan nilai r yang mendekati 0 mengindikasikan lemahnya hubungan antara dua variabel tersebut. Sedangkan tanda + (positif) dan  – (negatif) memberikan informasi mengenai arah hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai – (negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan. Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y.
Koefisien korelasi pearson atau Product Moment  Coefficient of Correlation adalah nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier dua variabel dengan skala data interval atau rasio. Rumus yang digunakan adalah
Koefisien korelasi rangking Spearman atau Spearman rank correlation coeficient merupakan nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier antara dua variabel dengan skala data ordinal.Koefisien Spearman biasa dilambangkan dengan . Rumusnya yang digunakan adalah
Dimana        di=selisih dari pasangan ke-i atau Xi – Yi  ;
n = banyaknya pasangan rank
Jika variabel X dan Y independen maka nilai r = 0, akan tetapi jika nilai r=0, X dan Y tidak selalu independen. Variabel X dan Y hanya tidak berasosiasi.
Perlu diketahui bahwa hasil dari koefisien koefisien korelasi hanya bisa digunakan sebagai indikasi awal dalam analisa. Nilai dari koefisien korelasi tidak dapat menggambarkan hubungan sebab akibat antara variabel X dan Y. Untuk sampai pada adanya hubungnan sebab dan akibat diperlukan penelitian yang lebih intensif atau dapat didasarkan pada teori yang ada dimana X mempengaruhi Y atau Y yang mempengaruhi X.
Selain itu, dalam menganalisa hubungan antara  X dan Y, tentunya harus didasarkan adanya hubungan yang logis antara kedua variabel tersebut. Kita tidak bisa sembarangan mengukur koefisien korelasi antara dua variabel. Misalnya,  variabel Y merupakan data mengenai banyaknya angka kecelakan yang terjadi di Jakarta pada tahun 2013 dan variabel X adalah jumlah kasus pencurian di Jakarta pada tahun 2013. Kemudian dihitung koefisien korelasi antara variabel X dan Y, diperoleh hubunganya yang kuat antara kedua variabel tersebut. Disini nilai koefisien korelasi yang didapat tentunya tidak akan memiliki makna meskipun didapat nilai korelasi yang kuat karena secara logis tingkat kecelakaan tidak memiliki hubungan dengan tingkat pencurian yang ada.
Untuk memperjelas pemahaman akan disajikan beberapa contoh di bawah ini
Contoh 1
Di bawah ini disajikan data tentang harga rata-rata dollar Amerika dan emas 24 karat di pasaran Jakarta tiap akhir tahun selama 1970 s/d 1978.
Tahun
Harga dollar US dalam rupiah
Harga emas 24 karat dalam rupiah
1970
382,00
485,00
1971
420,00
622,00
1972
420,00
876,00
1973
420,00
1.483,00
1974
422,00
2.303,00
1975
420,00
1.900,00
1976
421,00
1.850,00
1977
420,00
2.150,00
1978
632,00
4.300,00
Sumber: Indikator Ekonomi, November 1979
Tentukan apakah terdapat Korelasi antara harga dollar US dan harga emas 24 karat? Jelaskan artinya!
Penyelesaian
Harga dollar US = X
Harga emas 24 karat = Y
Dari data yang ada, diketahui bahwa kedua variabel, yaitu harga dollat US dan harga emas 24 karat mempunyai skala data rasio. Maka koefisien korelasi yang digunakan adalah Koefisien korelasi pearson
No
X
Y
X2
Y2
XY
1
382
485
145.924
235.225
185.270
2
420
622
176.400
386.884
216.240
3
420
876
176.400
767.376
367.920
4
420
1.483
176.400
2.199.289
622.860
5
422
2.303
178.084
5.303.809
971.866
6
420
1.900
176.400
3.610.000
798.000
7
421
1.850
177.241
3.422.500
778.850
8
420
2.150
176.400
4.622.500
903.000
9
632
4.300
399.424
18.490.000
2.717.600
Jumlah
3.975
15.969
1.782.673
39.037.583
7.561.606
Jadi, terdapat hubungan linier antara harga dollar US dan harga emas 24 karat dimana hubungan linier yang terjadi dapat dikatakan  kuat dan positif. Dengan demikian, kenaikan harga dollar US terjadi bersama – sama dengan kenaikan harga emas 24 karat. Begitu juga sebaliknya, penurunan harga dollar US terjadi berasama – sama dengan penurunan harga emas 24 karat.

G. Analisis Korelasi

Didalam Walpole (1995), analisis korelasi adalah metode statistik yang digunakan untuk mengukur besarnya hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Nilai korelasi populasi (ρ) berkisar pada interval -1 ≤ ρ ≤ 1. Jika korelasi bernilai positif, maka hubungan antara dua variabel bersifat searah. Sebaliknya, jika korelasi bernilai negatif, maka hubungan antara dua variabel bersifat berlawanan arah. Misalkan korelasi sampel antara variabel X dan Y (rX,Y) bernilai positif mengartikan bahwa jika nilai X naik maka nilai Y juga naik, sedangkan jika nilai X turun maka nilai Y juga turun. Misalkan korelasi sampel antara variabel X dan Y (rX,Y) bernilai negatif mengartikan bahwa jika nilai X naik maka nilai Y juga turun, sedangkan jika nilai X turun maka nilai Y juga naik. Nilai korelasi sampel (r) diukur dari korelasi Pearson dengan syarat data berskala interval/rasio yang mana dirumuskan sebagai berikut.
Nilai n adalah jumlah pengamatan. Interpretasi dari besarnya nilai korelasi sampel antara variabel dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Tabel 1. Koefisien Korelasi dan Interpretasinya*
Nilai Korelasi Sampel (r)
Interpretasinya
0,00 - 0,09
Hubungan korelasinya diabaikan
0,10 - 0,29
Hubungan korelasi rendah
0,30 - 0,49
Hubungan korelasi moderat
0,50 - 0,70
Hubungan korelasi sedang
> 0,70
Hubungan korelasi sangat kuat
                 *Dijabarkan oleh Yamin dan Kurniawan (2009:70)
Untuk menguji korelasi populasi (ρ) antara X dan Y digunakan hipotesis sebagai berikut
          H0ρ = 0
          H1ρ ≠ 0
Korelasi populasi signifikan (keberadaannya nyata)  ketika P-value (Sig.(2-tailed)) ≤ α dengan P-value adalah probabilitas kesalahan yang dihasilkan dari proses pengujian, sedangkan nilai α adalah probabilitas kesalahan yang ditentukan oleh peneliti biasanya sebesar 1%, 5%, atau 10%. Secara teori, P-value merupakan probabilitas kesalahan ketika hipotesis nol dapat ditolak berdasarkan statistik uji, sedangkan nilai α merupakan probabilitas kesalahan menolak hipotesis nol padahal hipotesis nol bernilai benar.

Berdasarkan skala pengukuran pada data pengamatan, korelasi dibedakan menjadi:
1.    Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala interval/rasio.
2.    Korelasi Kendall's Tau dan Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala ordinal.
3.    Contingency Coefficient dan Cramer's V digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala nominal.
4.    Korelasi Eta digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel data yang beskala nominal dan interval.




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      regresi linier ganda (Multivariate Linear Regression) adalah analisis yang dilakukan apabila satu variabel dependen Y perlu dijelaskan oleh lebih dari satu variabel independen X.
2.      Model regresi ganda yang telah dikembangkan secara mantap adalah model linier.
3.      Pengujian keberartian persamaan regresi ganda menggunakan F tes dan pengujian koefisien regresi menggunakan t tes.
4.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikatnya diperlukan perhitungan koefisien korelasi.
5.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dengan mempertimbangkan hubungan variabel bebas lainnya, baik terhadap variabel terikat maupun variabel bebas yang dicari kontribusinya, diperlukan analisis korelasi parsial.
B.     SARAN
Dalam menggunakan analisis regresi ganda perlu kehai-hatian, hal ini disebabkan karena analisis regresi ganda menuntut adanya beberapa syarat serta karena analisis regresi ganda mengandung keterbatasan dalam analisisnya.











DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Agus. 2010. Statistik Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. Jakarta: Prenada Media Group.
Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Tim Penyusun. 2006. Statistika Dasar (Metoda Statistika). Bengkulu: Universitas Bengkulu.




 BAB I
PENDAHULUAN
A. latar Belakang
Penentuan teknik analisis yang akan digunakan dalam suatu analisis - biasanya dibahas dalam metodologi penelitian sangat tergantung dari kerangka konseptual yang menjadi dasar analisis dan tujuan dari pelaksanaan analisis. Agar hasil analisis dapat ditafsirkan secara tepat, maka harus dihindari penggunaan teknik analisis yang tidak sesuai dengan skala pengukuran dari variabel yang digunakan dalam analisis. Dalam mengkaji hubungan antara dua variabel atau lebih, penting dipahami skala pengukuran dari setiap variabel tersebut, sehingga teknik analisis yang akan digunakan untuk menjelaskan hubungan atau kaitan antara variabel tersebut dapat dipilih yang paling sesuai. Apabila hal ini diabaikan, maka dapat menghasilkan interpretasi hasil yang kurang tepat (misleading).
Sebagai contoh, analisis regresi mensyaratkan bahwa variabel yang digunakan paling tidak diukur secara interval, sehingga kalau ada salah satu variabel yang diukur secara nominal atau ordinal maka hasil yang diperoleh tidak dapat ditafsirkan secara tepat, oleh karena asumsi dalam penggunaan teknik ini yang tidak dapat dilanggar adalah bahwa variabel yang digunakan mengikuti distribusi normal.
Pada pertemuan yang lalu kita telah membahas mengenai korelasi dan regresi linier sederhana. Makalah   ini  akan  membahas mengenai regresi ganda yang akan dipaparkan pada pembahasan Bab II, semoga makalah ini dapat memberikan pemahaman yang lebih lanjut bagi kita tentang teknik analisis menggunakan regresi ganda.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Regresi Ganda
Analisis Regresi adalah analisis yang mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengukuran pengaruh ini melibatkan satu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), yang dinamakan analisis regresi linier sederhana dengan rumus Y= a+bX. Nilai “a” adalah konstanta dan nilai “b” adalah koefisien regresi untuk variabel X.
Harga ‘a’ dapat dicari dengan rumus :

Harga ‘b’ dapat dicari dengan rumus :

Koefisien regresi ‘b’ adalah kontribusi besarnya perubahan nilai variabel bebas, semakin besar nilai koefisien regresi maka kontribusi perubahan semakin besar, demikian pula sebaliknya akan semakin lecil. Kontribusi perubahan variabel bebas (X) juga ditentukan oleh koefisien regresi positif atau negatif.

2. Pengukuran Analisis Regresi
Pengukuran pengaruh variabel yang melibatkan lebih dari satu variabel bebas (X1,X2,X3,…,Xn), digunakan analisis regresi linier berganda, disebut linier karena setiap estimasi atas nilai diharapkan memgalami peningkatan atau penurunan mengikuti garis lurus. Berikut ini estimasi regresi linier berganda :
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+…+bnXn
Keterangan :
Y                : variabel terikat (dependent)
X (1,2,3,…) : variabel bebas (independent)
a                 : nilai konstanta
b (1,2,3,…) : nilai koefisien regresi
Penggunaan nilai konstanta secara statistik dilakukan jika satuan-satuan variabel X(independent) dan variabel Y (dependent) tidak sama. Sedangkan, bila variabel X(independent) dan variabel Y (dependent), baik linier sederhana maupun berganda, memiliki satuan yang sama maka nilai konstanta diabaikan dengan asumsi perubahan variabel Y (dependent) akan proposional dengan nilai perubahan variabel X (independent).
Dalam menentukan nilai ‘a’ dan ‘b1′,’b2′,’b3’,.., digunakan persamaan regresi linier berganda:
1. SY = an+b1SX1++b2SX2+b3SX3+…
2. SX1Y = aSX1+b1SX1²+b2SX1X2+…
3. SX2Y = aSX2+b2SX1X2+b2SX21²+… dan seterusnya.
Untuk menghitung nilai ‘a’,’b1′,’b2′,’b3′,… pada persamaan regresi linier berganda dapat dirumuskan =nx-1 di mana nx = banyaknya variabel bebas (X).

B. PERAMALAN(FORECASTING)
Untuk membuat peramalan pada persamaan EQ1, maka pada equation box klikmenu: Forecast atau klik Procs
 Forecast. Sehingga muncul kotak dialog Forecast.Untuk peramalan variabel log(deposito) atau ldeposito, maka ada beberapa hal yang perlu diisikan, yaitu:
Forecast nameIsikan pada kolom ini nama variabel yang akan digunakan sebagai nilai peramalan variabel dependen. Jika akan dilakukan peramalan unti variabelldeposito. Eviews secara otomatis akan mengisikan variabel peramalandengan nama ldeposito. Jika akan digunakan nama lain, isikan pada kolomini.
S.E.(optional)Pada kolom ini akan ditampilkan nilai standard error dari peramalan. Jika pada kolom ini tidak diisikan suatu nama, maka nilai standard error dari peramalan tidak akan disimpan.
Forecasting methodMetode yang akan digunakan adalah Static, yaitu metode denganmenghitung peramalan pada nilai actual.
OutputDigunakan untuk menampilkan output dalam bentuk grafik, nilai peramalan,atau keduanya

C. Residual
Residual adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data sampel.
Error adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan yang sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data populasi.
Persamaan keduanya : merupakan selisih antara nilai duga (predicted value) dengan pengamatan sebenarnya.
Perbedaan keduanya: residual dari data sampel, error dari data populasi.
*Predicted value adalah nilai duga yang dihasilkan dari model regresi yang diperoleh. Misal model regresi yang diperoleh: y = 2+3x. Apabila kita memasukkan nilai x = 1, maka predicted value dalam kasus ini  adalah y = 2+3*1 = 5.









D. KESALAHAN BAKU ESTIMASI
Setelah kita menentukan bentuk garis regresi maka tindakan selanjulnva adalah menentukan ketepatan garis regresi tersebut.
Dengan diagram pencar dapat diketahui secara kasar ketepatan garis regresi dengan memperhatikan luas penyimpangan terhadap garis regresi yang berupa titik-titik koordinat. Bila penyebaran titik-titik koordinat tidak luas berarti semakin tepat garis regresi yang kita buat dan sebaliknya.
Perhitungan estimasi kesalahan baku dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus berikut :
Rumus :  Se =      atau      Se =
Y = nilai variabel dependen
 X = nilai variabel independen
b = koefisien regresi
Y = nilai estimasi terhadap setiap nilai Y
a = Y- intercept
n = jumlah pasangan pengamatan

sebagai penyebut digunakan n -2 karena di sini kita kehilangan 2 derajat kebebasan, yaitu a dan b yang digunakan untuk menaksir A dan B populasi,
contoh   tentang   hubungan   antara  pengunjung   Puskesmas  dengan jumlah tctrasiklin dapat dihitung estimasi kesalahan baku seperti berikut.
X
Y
Y-Y*
(Y - Y )2
Y2
60
150
-21,1
445,21
22500
50
140
-4,5
20,25
19600
70
205
73,0
53,29
42025
40
130
12,1
146,41
16900
60
165
6,1
37,21
27225
70
210
12,3
151,29
44100



853,66
172350

Se = 853,66/4 = 14,6

E. koefisien determinasi
1.    Koefisien Determinasi
Dari koefisien korelasi Pearson (r) dapat dihitung lebih lanjut kuadrat r, disebut koefisien determinasi. Koefisien r kuadrat ( r2) dapat diartikan sebagai besar nya proporsi variasi Y yang dapat dijelaskan oleh variabel X. Hal ini didasarkan pemahaman bahwa variasi Y atau perubahan dari nilai Y, seyogyanya dijelaskan oleh variabel X yang kita duga sebagai faktor prediktor. Apabila variasi Y dapat dijelaskan 100% oleh variabel X, berarti X memang memegang peran dalam perubahan nilai Y. Atau dapat dikatakan penentu nilai Y. Dapat diperhatikan bahwa bila besar r= 1, maka r2 = 100%. Ini berarti bila terjadi perubahan nilai X, maka nilai Y pasti akan berubah.
Pada data Hb ibu dengan BBL diatas , maka nilai koefisien korelasi nya adalah 0,567
( 56,7%)  ,hal ini berarti variabel BBL dapat dijelaskan oleh variabel Hb ibu sebesar 56,7%.
D. Uji Hipotesis Koefisien Korelasi
Pengujian signifikansi koefisien korelasi selain dapat menggunakan tabel r juga dapat dihitung dengan uji t. Rumus uji t resebut :
t = r

tabel . Koefisien Korelasi pada Derajat Kemaknaan 5% dan 1%

dk
5%
1 %
dk .
5%
1%
1
0,887
1,000
24
0,388
0,496
2
0,950
0,999
25
0,381
0,487
3
0,878
0,959
26
0,374
0,478
4
0,811
0,917
27
0,367
0,470
5
0,754
0,874
28
0,361
0,463
6
0,707
0,834
29
0,355
0,456
7
0,666
0,798
30
0,349
0,449
8
0,632
0,765
35
0,325
0,418
9
0,602
0,735
40
0,304
0,393
10
0,576
0./08
45
0,288
0,372
11
0,553
0,684
50
0,273
0,354
12
0,532
0,661
60
0,250
0,325
13
0,514
0,641
70
0,323
0,302
14
0,497
0,623
80
0,217
0,283
15
0,482
0,606
90
0,205
0,267
16
0,468
0,590
100
0,195
0,254
17
0,456
0.575
125
0,174
0,228
18
0,444
0,561
150
0,159
0,208
19
0.433
0,549
200
0,138
0,148
20
0,423
0,537
300
0,113
0,148
21
0,413
0,526
400
0,098
0,128
22
0,404
0,515
500
0,088
0,115
23
0,396
0,505
1000
0,062
0,081


F. Koefisien Korelasi
Sering kali kita ingin mengetahui bagaimanakah hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Apakah variabel X mempunyai hubungan dengan variabel Y ? Apakah nilai Matematika siswa mempunyai hubungan dengan tingkat kecerdasannya (IQ) ? Apakah terdapat kesepakatan antara para juri dalam menilai para pesertanya dimana dalam penilaianya skor tertinggi adalah 10 dan terendah adalah 1 ?
Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r yang mendekati -1 atau +1 menunjukan hubungan yang kuat antara dua variabel tersebut dan nilai r yang mendekati 0 mengindikasikan lemahnya hubungan antara dua variabel tersebut. Sedangkan tanda + (positif) dan  – (negatif) memberikan informasi mengenai arah hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai – (negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan. Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y.
Koefisien korelasi pearson atau Product Moment  Coefficient of Correlation adalah nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier dua variabel dengan skala data interval atau rasio. Rumus yang digunakan adalah
Koefisien korelasi rangking Spearman atau Spearman rank correlation coeficient merupakan nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier antara dua variabel dengan skala data ordinal.Koefisien Spearman biasa dilambangkan dengan . Rumusnya yang digunakan adalah
Dimana        di=selisih dari pasangan ke-i atau Xi – Yi  ;
n = banyaknya pasangan rank
Jika variabel X dan Y independen maka nilai r = 0, akan tetapi jika nilai r=0, X dan Y tidak selalu independen. Variabel X dan Y hanya tidak berasosiasi.
Perlu diketahui bahwa hasil dari koefisien koefisien korelasi hanya bisa digunakan sebagai indikasi awal dalam analisa. Nilai dari koefisien korelasi tidak dapat menggambarkan hubungan sebab akibat antara variabel X dan Y. Untuk sampai pada adanya hubungnan sebab dan akibat diperlukan penelitian yang lebih intensif atau dapat didasarkan pada teori yang ada dimana X mempengaruhi Y atau Y yang mempengaruhi X.
Selain itu, dalam menganalisa hubungan antara  X dan Y, tentunya harus didasarkan adanya hubungan yang logis antara kedua variabel tersebut. Kita tidak bisa sembarangan mengukur koefisien korelasi antara dua variabel. Misalnya,  variabel Y merupakan data mengenai banyaknya angka kecelakan yang terjadi di Jakarta pada tahun 2013 dan variabel X adalah jumlah kasus pencurian di Jakarta pada tahun 2013. Kemudian dihitung koefisien korelasi antara variabel X dan Y, diperoleh hubunganya yang kuat antara kedua variabel tersebut. Disini nilai koefisien korelasi yang didapat tentunya tidak akan memiliki makna meskipun didapat nilai korelasi yang kuat karena secara logis tingkat kecelakaan tidak memiliki hubungan dengan tingkat pencurian yang ada.
Untuk memperjelas pemahaman akan disajikan beberapa contoh di bawah ini
Contoh 1
Di bawah ini disajikan data tentang harga rata-rata dollar Amerika dan emas 24 karat di pasaran Jakarta tiap akhir tahun selama 1970 s/d 1978.
Tahun
Harga dollar US dalam rupiah
Harga emas 24 karat dalam rupiah
1970
382,00
485,00
1971
420,00
622,00
1972
420,00
876,00
1973
420,00
1.483,00
1974
422,00
2.303,00
1975
420,00
1.900,00
1976
421,00
1.850,00
1977
420,00
2.150,00
1978
632,00
4.300,00
Sumber: Indikator Ekonomi, November 1979
Tentukan apakah terdapat Korelasi antara harga dollar US dan harga emas 24 karat? Jelaskan artinya!
Penyelesaian
Harga dollar US = X
Harga emas 24 karat = Y
Dari data yang ada, diketahui bahwa kedua variabel, yaitu harga dollat US dan harga emas 24 karat mempunyai skala data rasio. Maka koefisien korelasi yang digunakan adalah Koefisien korelasi pearson
No
X
Y
X2
Y2
XY
1
382
485
145.924
235.225
185.270
2
420
622
176.400
386.884
216.240
3
420
876
176.400
767.376
367.920
4
420
1.483
176.400
2.199.289
622.860
5
422
2.303
178.084
5.303.809
971.866
6
420
1.900
176.400
3.610.000
798.000
7
421
1.850
177.241
3.422.500
778.850
8
420
2.150
176.400
4.622.500
903.000
9
632
4.300
399.424
18.490.000
2.717.600
Jumlah
3.975
15.969
1.782.673
39.037.583
7.561.606
Jadi, terdapat hubungan linier antara harga dollar US dan harga emas 24 karat dimana hubungan linier yang terjadi dapat dikatakan  kuat dan positif. Dengan demikian, kenaikan harga dollar US terjadi bersama – sama dengan kenaikan harga emas 24 karat. Begitu juga sebaliknya, penurunan harga dollar US terjadi berasama – sama dengan penurunan harga emas 24 karat.

G. Analisis Korelasi

Didalam Walpole (1995), analisis korelasi adalah metode statistik yang digunakan untuk mengukur besarnya hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Nilai korelasi populasi (ρ) berkisar pada interval -1 ≤ ρ ≤ 1. Jika korelasi bernilai positif, maka hubungan antara dua variabel bersifat searah. Sebaliknya, jika korelasi bernilai negatif, maka hubungan antara dua variabel bersifat berlawanan arah. Misalkan korelasi sampel antara variabel X dan Y (rX,Y) bernilai positif mengartikan bahwa jika nilai X naik maka nilai Y juga naik, sedangkan jika nilai X turun maka nilai Y juga turun. Misalkan korelasi sampel antara variabel X dan Y (rX,Y) bernilai negatif mengartikan bahwa jika nilai X naik maka nilai Y juga turun, sedangkan jika nilai X turun maka nilai Y juga naik. Nilai korelasi sampel (r) diukur dari korelasi Pearson dengan syarat data berskala interval/rasio yang mana dirumuskan sebagai berikut.
Nilai n adalah jumlah pengamatan. Interpretasi dari besarnya nilai korelasi sampel antara variabel dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Tabel 1. Koefisien Korelasi dan Interpretasinya*
Nilai Korelasi Sampel (r)
Interpretasinya
0,00 - 0,09
Hubungan korelasinya diabaikan
0,10 - 0,29
Hubungan korelasi rendah
0,30 - 0,49
Hubungan korelasi moderat
0,50 - 0,70
Hubungan korelasi sedang
> 0,70
Hubungan korelasi sangat kuat
                 *Dijabarkan oleh Yamin dan Kurniawan (2009:70)
Untuk menguji korelasi populasi (ρ) antara X dan Y digunakan hipotesis sebagai berikut
          H0ρ = 0
          H1ρ ≠ 0
Korelasi populasi signifikan (keberadaannya nyata)  ketika P-value (Sig.(2-tailed)) ≤ α dengan P-value adalah probabilitas kesalahan yang dihasilkan dari proses pengujian, sedangkan nilai α adalah probabilitas kesalahan yang ditentukan oleh peneliti biasanya sebesar 1%, 5%, atau 10%. Secara teori, P-value merupakan probabilitas kesalahan ketika hipotesis nol dapat ditolak berdasarkan statistik uji, sedangkan nilai α merupakan probabilitas kesalahan menolak hipotesis nol padahal hipotesis nol bernilai benar.

Berdasarkan skala pengukuran pada data pengamatan, korelasi dibedakan menjadi:
1.    Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala interval/rasio.
2.    Korelasi Kendall's Tau dan Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala ordinal.
3.    Contingency Coefficient dan Cramer's V digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang memiliki data beskala nominal.
4.    Korelasi Eta digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel data yang beskala nominal dan interval.




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      regresi linier ganda (Multivariate Linear Regression) adalah analisis yang dilakukan apabila satu variabel dependen Y perlu dijelaskan oleh lebih dari satu variabel independen X.
2.      Model regresi ganda yang telah dikembangkan secara mantap adalah model linier.
3.      Pengujian keberartian persamaan regresi ganda menggunakan F tes dan pengujian koefisien regresi menggunakan t tes.
4.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikatnya diperlukan perhitungan koefisien korelasi.
5.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dengan mempertimbangkan hubungan variabel bebas lainnya, baik terhadap variabel terikat maupun variabel bebas yang dicari kontribusinya, diperlukan analisis korelasi parsial.
B.     SARAN
Dalam menggunakan analisis regresi ganda perlu kehai-hatian, hal ini disebabkan karena analisis regresi ganda menuntut adanya beberapa syarat serta karena analisis regresi ganda mengandung keterbatasan dalam analisisnya.











DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Agus. 2010. Statistik Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. Jakarta: Prenada Media Group.
Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Tim Penyusun. 2006. Statistika Dasar (Metoda Statistika). Bengkulu: Universitas Bengkulu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar